Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
Ada banyak hikmah ketika seseorang mengambil keputusan untuk merantau, kita akan dipaksa untuk belajar agar mensyukuri keadaan yang dirasakan tempat tinggal ekita sebelumnya meski sejatinya dulu sering kita keluhkan, setelah merantau menjadi hal yang berbeda. seakan tempat tinggal kita adalah zona paling nyaman dalam hidupkita.
Belajar Beradaptasi
Merantau halnya belajar di negeri orang, karena di lingkungan baru kita akan menemukan yang belum pernah ditemukan di tempat kelahiran kita. Dari situ kita baru belajar sesuatu yang baru. Karena kita di lingkungan orang lain, jadi kita harus bisa beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Kita bisa belajar baik dari segi bahasanya, karakter dan budaya masyarakatnya sekalipun agar kita bisa berbaur dengan mereka.
Merantau itu berjuang
Hidup itu penuh perjuangan, salah satu perjuangan besar untuk diri sendiri adalah merantau, dari rumah kita keluar dan masuk di tempat yang baru pasti mempunyai tujuan.Tujuan itu perlu kita perjuangkan agar tidak kalah telak dalam perjalanan.Berjuang identik dengan perlawanan, entah itu perlawanan terhadap batin sendiri maupun perlawanan terhadap lawan dalam rangka memperjuangkan apa yang kita perjuangkan dari rumah.
Merantau adalah Perubahan
Tak ayalnya dalam berjuang, yang kita inginkan adalah perubahan.Perubahan menuju yang lebih baiktentunya. Bergerakdari satu tempat ketempat yang baru merupakan indikasi perubahan yang tergerak oleh sebuah aksi, dimana aksi ini akan memberikan hasil. Bukanlah jiwa sang Petualang jika tidak ada pergerakan. Bukan jiwa seorang pemuda jika belum pernah mencicipi asam garam dan pahit getirnya hidup dalam perantauan.
Perantau adalah Sang Penakluk
Layaknya seperti Ghazi (Sang ksatria Islam Turki). Berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain, nomaden adalah kebiasaan mereka. Perantaupun layaknya seperti Ghazi, menjadi sang penaklukdan sang pembebas dalam segala hal, terutama dalam memperjuangkan Islam sesuai bisyaroh Rasulullah Saw..
Menyadarkanku akan arti kasih sayang
Rasa rindu dengan keluarga adalah nikmat tersendiri bagi kita, nikmat yang sungguh luar biasa besar menurut saya pribadi. Karena saat ini Saya merasakan betapa besarnya kasih sayang beliau terhadap saya ketika saya menyampaikan keadaan di perantauan ini beliau langsung tanggap memberikan apa yang saya butuhkan. Dari situ saya tersadar, betapa orang tua sangat sayang lebih dari apapun kepada anaknya, sedangkan mungkin dulunya kita merasa mandiri sebagai seorang diri.
Sekarang Saya sangat bersyukur ternyata Allah masih memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu keluarga pada hari Raya Idul Adha kemarin, tepatnya pada tanggal 15 Oktober 2013. Padahal waktu itu saya sudah 85% dipastikan tidak bisa merayakan hari raya haji di rumah bersama keluarga, dan ternyata nasib berpihak pada saya J
Kini, betapa saya sangat sadar arti kasih sayang orang tua. Betapa saya sangat merasakan hikmah merantau. Pantaslah Imam Syafi’I sampai bersyair tentang Indah dan pentingnya merantau;
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu Gaharu tak ubahnya kayu biasa jika di dalam hutan
Oleh : Akhy Kholid

EmoticonEmoticon